Penyebab Palestina selalu bergolak dilihat dari perspektif teologis dan historis
Persoalan yang sekarang ini terjadi akibat ada perjuangan orang-orang yang dijajah melawan penjajah. Penjajah itu --Israel atau Zionis-- merasa punya alasan teologis dan historis.
Secara historis, mereka mengklaim merekalah pewaris sah tanah Palestina karena di kawasan itu pernah tinggal Raja Sulaiman, raja mereka. Kita tahu di sana pula Nabi Sulaiman dulu sangat berkuasa dan memiliki Haikal (Pusat Kerajaan) Sulaiman.
Adapun secara teologis, Zionis menganggap Palestina sebagai tanah mereka karena dalam Perjanjian Lama dinyatakan kawasan itu adalah “ Tanah yang Dijanjikan oleh Tuhan (Promised Land)” untuk bangsa Israel.
Sebaliknya secara historis, rakyat Palestina menyatakan, “ Kami bangsa Palestina berada di negeri ini sejak jaman Umar bin Khatab”.
Jadi jika dihitung sejak Umar bin Khatab hingga pertengahan abad ke-20 --ketika persoalan muncul-- orang Palestina telah di sana lebih kurang 13,5 abad. Umar bin Khatab menguasai tanah itu bukan dari Yahudi, melainkan dari Nasrani. Ia merebut dari Romawi Timur --pemerintahannya berpusat di Konstantinopel atau Byzantium-- yang telah berkuasa sekitar 300 tahun.
Persoalannya kemudian: adakah hukum internasional yang memperbolehkan orang mengambil negerinya kembali --jika itu benar-benar negerinya-- yang telah ditinggalkan 16,5 abad lalu? Jika boleh orang-orang Australia harus keluar dari Australia karena mereka merupakan orang-orang baru di benua itu. Demikian juga orang-orang Amerika harus hengkang dari negeri Paman Sam karena usia kedatangan mereka belum lama.
Pertanyaan yang lain: apa bukti orang Israel itu keturunan Nabi Sulaiman? Mungkin jawabannya: karena kami sebangsa dengan Nabi Sulaiman. Ini jawaban yang masih bisa didebat. Orang diakui sebagai suatu bangsa jika memenuhi dua atau paling tidak satu kriteria. Pertama, wajah. Kedua, bahasa.
Orang Palestina mengatakan kepada orang Israel, “ Anda itu tidak berwajah Semit. Anda lebih tampak sebagai orang Eropa Timur atau Rusia. Yang tinggal di sini kan orang Semit. Bahasa Anda juga tidak seperti yang digunakan Nabi Musa atau Nabi Sulaiman. Jadi tidak sah Anda mengklaim sebagai warga bangsa Palestina”.
Hemat saya (Bapak Yunahar Iiyas), Israel memang tidak punya alasan menjajah Palestina. Karena itu, satu-satunya cara merebut wilayah itu ya dengan jalan kekerasan.
Cara Sebenarnya orang-orang Yahudi Datang ke Palestina
Secara diam-diam, mereka dibawa oleh Inggris. Tatkala dunia Islam dipimpin oleh Khilafah Ustmaniah yang kekuasaannya terbentang dari Maroko, Aljazair, Tunisia sampai ke Arab saudi, bahkan India, Turki, dan Balkan, siapapun --termasuk Eropa-- tak sanggup melawan --Imperium Ottoman atau Ustmani itu.
Namun, karena ada nasionalisme Arab, muncullah perlawanan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Ustmaniah. Imperium yang dulu kuat itu pada saat yang sama menjadi lemah karena terjerat hutang, pejabatnya korup dansuka berfoya-foya.
Karena itu masyarakat Zionis Eropa kemudian menawarkan kepada Sultan Abdul Hamid II untuk membantu mengukuhkan kerajaan yang bangkrut itu. Tentu saja para Zionis meminta imbalan dan mereka meminta tanah Pelestina untuk mendirikan Kerajaan Israel Raya.
Sultan Abdul hamid II menolak. Dia bilang,”Tanah ini merupakan wakaf umat Islam. Jika saya berikankepada kalian, saya akan dikutuk turun-temurun”. Sejarah kemudian menjuluki kerajaan itu sebagai “Orang Tua yang Sakit-sakitan”. Perlakuan terhadap orang tua yang sakit itu, ya diobati, atau dibiarkan toh lama-lama mati, atau dipercepat kematiannya.
Kita kemudian tahu Khilafah Ustman dipercepat kematiannya oleh Yahudi dengan menggunakan orang dalam, yakni Mustafa Kemal Ataturk, yang membentuk republik sekuler Turki. Sementara itu, Mesir, Suriah, dan negeri-negeri lain memerdekakan diri. Akhirnya tinggal Turki, sehingga memudahkan kolonialisme dan imperialisme masuk. Inggris, Perancis, dan Italia lalu berbagi wilayah. Namun, satu per satu wilayah yang dikuasai penjajah merdeka.
Hanya ketika giliran Palestina, wilayah itu oleh PBB diberikan kepada Inggris sebagai negara protektorat. Inggris diberi amanah mempersiapkan kemerdekaan Palestina. Pada saat itulah secara diam-diam Inggris membahas orang-orang Yahudi ke sana. Mula-mula orang-orang Yahudi itu hanya tinggal di sana, sedikit-sedikit membeli tanah, kemudian kian meluas, dan akhirnya justru menguasai.
Lalu muncullah perang Yahudi versus Palestina. Israel didukung Amerika melawan negara-negara lain di Timur Tengah yang tidak bisa bersatu.
Pada Masa Yasser Arafat hampir ada Perdamaian Indah Namun tak terwujud – Sebab Perdamaian Selalu tak terwujud
Sejak dulu sebenarnya sudah ada perundingan, tetapi selalu dilanggar oleh Israel. Israel tak pernah menepati janji, walaupun pejuang Palestina sudah mau mundur dari garis yang telah disepakati. Dulu, sebenarnya perlawanan terhadap Israel cukup bagus tatkala negara-negara Arab mau berperang. Mereka pernah beberapa kali menang melawan Israel. Mereka juga beberapa kali kalah. Mesir kapok karena sebagian yang lain tidak ikut perang.
Tentu di Palestina sendiri kita kemudian bisa mencatat kemunculan Yasser Arafat dan PLO, serta Fatah. Perundingan-perundingan terjadi sampai munculPerundingan Oslo yang menjanjikan kemerdekaan bagi Palestina. Namun, lagi-lagi Israel tak menepati janji.
Karena selalu tak ditepati, rakyat Palestina melawan dengan intifadah, melempar batu. Ini dihentikan dengan perjanjian, tetapi dilanggar lagi, sehingga muncul intifadah lagi. Begitu seterusnya.
Para pejuang intifadah ini bergabung dengan Hamas (Gerakan Perlawanan Islam). Dan melihat perjanjian selalu tak ada gunanya, resolusi PBB tidak bisa dijalankan atau jika dilanggar oleh Israel tak muncul sanksi, maka Hamas bilang,”Tiada jalan lain, kita harus merebut Palestina dengan berperang, meskipun hanya dengan batu”.
Pada saat yang sama terjadi perbedaan antara Fatah dan Hamas. Pada saat Yaser Arafah masih hidup, perbedaan itu tak sampai menimbulkan sengketa, karena Hamas menghormati pemimpin PLO itu. Namun, begitu Arafat meninggal dan diganti oleh Mahmoud Abbas, sengketa Fatah-Hamas tak terdamaikan, bahkan Abbas dikudeta di daerah Gaza. Gaza kemudian dibagi dua menjadi Tepi Barat (Fatah) dan Gaza (Hamas). Sebenarnya sebelum terbagi dua, ada pemilu demokratis yang dimenangi oleh Hamas. Sayang Amerika, Eropa, dan sekutu tak mengakui, dan malah Hamas diboikot dengan tujuan agar rakyat menderita dan dan meminta Abbas memimpin. Akan tetapi rakyat Palestina pro-Hamas bersedia menderita karena melihat Hamas lebih tulus dan islami jika dibandingkan dengan Fatah yang sekuler. Ideologi Fatah itu hanya “nasionalis”. Oramg-orangnya ada yang Yahudi, Kristen, dan atheis. Ditambah ada banyak orang Fatah yang korupsi, sehingga rakyat Palestina memang cenderung berpaling ke Hamas.
Sebenarnya ini merupakan kesempatan Amerika dan sekutu untuk berunding dengan Hamas. Naumun, Hamas justru dikucilkan. Sekarang ini Israel bertujuan menghancurkan Hamas dan ingin mendudukkan Fatah (Mamoud Abbas). Dalam protokoler Israel, hanya ada dua cara menghadapi musuh: didominasi atau dihancurkan. Fatah cenderung bisa didominasi, sedangkan Hamas hanya akan hilang jika dihancurkan.
Apakah Fatah dan Hamas masih bisa bersatu?
Masih sangat mungkin. Intinya, bangsa Arab gampang berkelahi, tetapi gampang berdamai. Mereka tidak berdamai ketika ada pemain asing ikut campur. Dengan kata lain, orang Palestina sendiri masih mungkin berdamai, jika tidak dicampuri oleh Israel, Amerika, atau Uni Eropa.
Nah, sekarang kalau orang Indonesia yang hendak campur tangan dengan berjihad di sana?
Untuk menyelesaikan konflik sesama Arab memang serahkan saja kepada sesama Arab. Masalahnya yang sekarang ini terjadi kan bukan sesama Arab. Yang berperang kan Palestina dan Israel yang didukung Amerika Serikat.
Jadi jika ada yang bersolidaritas dengan berjihad melawan Israel, janganlah dianggap sebagai perang sungguhan. Itu hanya ekspresi. Biarkan juga jika ada yang menangis, berdoa, melakukan qunut nazilah, memberi sumbangan dana, obat, atau jadi relawan. Pemerintah tidak perlu menanggapi secara atraktif. Toh jika pada akhirnyatentara yang akan dikirim. Organisasi Konferensi Islam (OKI) saat ini memang sudah memutskan untuk mengirimkan tentara perdamaian. OKI seharusnya mengirim juga pakta pertahanan.
Jika orang Indonesia ingin melakukan sesuatu untuk rakyat Palestina, pertama, bantulah dengan doa agar Tuhan menurunkan malaikat untuk membantu Palestina seperti pada saat Allah membantu Nabi dalam Perang Badar. Kedua, memberikan sumbangan. Ketiga, meminta negara-negara Arab bersatu menghadapi Israel. Itu saja.



